Kamis, 03 Juni 2010

Summary Seminar Magister Manajemen UBD XV (29 Mei 2010)

PENDIDIKAN LINGKUNGAN


SEBAGAI DASAR KEARIFAN SIKAP DAN PRILAKU BAGI KELANGSUNGAN KEHIDUPAN MENUJU PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN*)

OLEH : Prof. Mohamad Soerjani**)

Sejak awal tahun 70-an dunia pendidikan di Indonesia telah terkait dan atau mengkaitkan diri dengan permasalahan yuang disebut ”masalah lingkungan”. Sejalan dengan perubahan keadaan dan perkembangan pemikiran ternyata terdapat berbagai faktor yang dari waktu ke waktu perlu dipertimbangkan.

Secara umum kita selalu mengacu pada lingkungan sekitar dengan pengertian yang sempit. Padahal pengertian lingkungan harus dimulai dari dasarnya yang sangat luas, karena lingkungan adalah ruang angkasa yang didalamnya terdap[at kosmos atau segenap pengada yang diciptakan Tuhan di alam semesta ini, yang selalu mengalami perubahan.

Sebagai bagian kecil dari alam semesta, kehidupan kita dibumi juga mengalami perubahan tatanan alam, seperti terjadinya gempa bumi, gunung meletus, tsunami, el-nino, dan berbagai prahara dari dinamika alam di bumi. Selain ulah manusia, prilaku mahluk hidup jenis lain juga mengakibatkan keadaan dan masalah kehidupan yang harus kita alami bersama.

Berbagai keadaan tersebut dapat mengakibatkan perubahan sampai kerusakan tatanan lingkungan dibumi. Hal ini diperparah dengan prilaku manusia yang tidak ramah dengan tatanan alam di bumi, misalnya pencemaran industri, pembakaran hutan, pengotoran wilayah pemukiman, penumpukan sampah, dll.

Perubahan dinamika proses dan atau tatanan di bumi ini merupakan tantangan bagi kelangsungan peri kehidupan dan menjadi tanggung jawab serta kewajiban kita untuk secara bersama dapat mengatasi dengan kearifan sikap dan prilaku yang bijaksana.

Mempelajari dan merumuskan kearifan sikap dan prilaku kita, diperoleh melalui pendidikan yang secara utuh merupakan pendidikan tentang lingkungan hidup wilayah atau ruang sekitar di bumi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan keadaan, daya dan tatanan alam semesta.

Pendidikan lingkungan merupakan dasar pemahaman tentang makna kehidupan untuk kearifan sikap dan prilaku bagi kelangsungan kehidupan. Makna kehidupan yang layak dan optimal dapat dicapai melalui pembangunan berkelanjutan yang berhasil bagi bangsa dalam bingkai NKRI. Dasar filosofi negara adalah asas Pancasila dan ditandai dengan pembentukan pemerintahan yang baik yang kecuali melindungi seluruh rakyat dan seluruh wilayah tanah air juga berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan ke arah kecerdasan kehidupan bangsa ini ditujukan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan sosial dalam menciptakan dunia yang aman, tertib dan damai.

Lingkungan adalah batasan tentang ruang yang diciptakan Tuhan YME di alam raya. Termasuk segenap benda angkasa (kosmos) yang dipelajari dalam kosmologi dilengkapi dengan kosmogenesis yaitu perkiraan tentang proses terjadinya alam semesta bermilyar abad yang telah lampau. Kumpulan benda angkasa berupa nebula dan beberapa gugus galaksi. Salah satunya adalah galaksi Bima sakti (Milky Way) yang didalamnya terdapat salah satu bintang : Matahari.

*) Disampaikan pada seminar Mahasiswa Magister Manajemen

Program Pasca Sarjana Angkatan XV

Universitas Bina Darma Palembang

Tanggal 29 Mei 2010 di Hotel Horizon Palembang

**) The Institute for Environmental Education and Development, IEED, Jakarta

Dalam sistem matahari terdapat delapan planet, salah satu diantaranya adalah bumi dimana terdapat adanya kehidupan. Lingkungan kehidupan berada dalam ekosfera yaitu perpaduan antara tanah, air dan udara di bumi. Kehidupan dalam ekosfera ini dipelajari dalam ekologi, yaitu ilmu tentang seluruh kehidupan dalam ekosistem, dimana terdapat oikos (seluruh jenis mahluk hidup = biota) yang berada secara terpadu dengan berbagai unsur abiota seperti ruang (tanah, air, udara serta materi lain). Keaneka ragaman hayati dan pengelolaannya secara holistik dan terpadu merupakan kewajiban manusia untuk mengelolanya dengan baik.

Dalam mengatur sikap, prilaku dan kewajiban asasi manusia di bumi kehidupan, dipelajari dalam ekologi. Kehidupan terdiri atas kelompok besar (kingdom) Monera, protista, flora, fungi dan animalia yang didalamnya terdapat Homo Erectus (mahluk yang berdiri) termasuk Homo sapiens (manusia) yang kita pelajari dalam ekologi manusia. Dalam mempelajari kehidupan ini, kita harus bertumpu pada makna keanekaragaman hayati dalam keanekaragaman ekosistem.

Alam dibumi terdiri atas lingkungan hidup alam, lingkungan hidup sosial yang terdiri atas kekerabatan sosial seruluh jenis mahluk hidup dan lingkungan semu yang dihasilkan oleh berbagai jenis mahluk hidup. Prilaku semua jenis berdasar atas kewajiban asasi bagi kelangsungan (survival) jenis.

Mahluk hidup selalu patuh akan prilaku alami termasuk kewajiban manusia untuk menjaga kelangsungan kehidupan semua jenis mahluk hidup yang ada. Tuhan menciptakan nyawa/roh kehidupan jenis yang satu setara dengan jenis yang lain. Dalam mencari makan, semut hitam di ruang makan yang kotor akan mengusung sisa makanan ke lubang semut tersebut yang berakibat bersihnya ruang makan. Tanpa menyadari maknanya, semut hitam di ruang makan akan diinjak manusia sampai mati.

Kehidupan berasal dari tanah dan akan kembali ke asalnya di tanah. Karena itu prilaku yang wajar adalah pengusungan semut hitam yang mati akan diusung rekan semut hitam yang lain kembali ke dalam liang, setara dengan manusia yang mengusung jenasah manusia yang meninggal dan menguburnya ke liang pemakaman.

Kecukupan akan kebutuhan kehidupan juga dapat disimak dari prilaku binatang yang menghemat sumber daya secara alami. Tupai makan daging kelapa dengan melubangi tempurungnya dan menyisakannya sebagai cadangan makanan dilain waktu. Seringkali manusia justru melupakan sikap hemat, pemanfaatan ulang dan alfa dalam menyisakan sumber daya seperlunya untuk kelangsungan hidup diri dan keturunannya.

Kekayaan Nusantara indonesia terdiri atas 75% berupa wilayah laut dan hanya 25% wilayah daratan yang terdiri atas lebih dari 17.508 pulau-pulau besar dan kecil. Penyebaran keberadaan manusia lebih diarahkan pada lima pulau besar : Kalimantan, Papua, Sumatera, Sulawesi dan – terutama – Pulau Jawa.

Kekayaan sumber daya laut berupa ikan, rumput laut dan sebagainya hanya secara minimal dimanfaatkan, sebagian cukup besar dipungut oleh nelayan asing. Demikian pula kekayaan hutan banyak ditebang untuk dijual secara ilegal ke luar negeri. Sumber daya mineral lain seperti minyak, batubara dan mineral lain (tembaga, emas, perak, dll) belum secara optimal dimanfaatkan oleh dan untuk masyarakat Indonesia sendiri.

Tingkat kesejahteraan masyarakat belum memadai dengan kekayaan alam yang kita miliki. Ekonomi yang sebenarnya memberi arti pengelolaan sumber daya alam bagi kesetaraan kesejahteraan rakyat masih belum cukup kita cermati peranannya. Ekonomi merupakan pendukung kecukupan kebutuhan akan sumber daya yang adil bagi semua jenis mahluk hidup. Kehidupan yang nyata adalah sikap rakus manusia yang rtidak peduli terhadap keadilan sosial.

Disamping itu terjadi pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara tidak optimal sehingga tertumpuk sisa sumber daya sebagai limbah yang mengakibatkan pengotoran lingkungan sekitar. Untuk mengatasi hal tersebut perlu upaya dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya seperti yang pernah diajarkan pada sekolah kejuruan. Siswa SMK Perikanan dibina untuk memproses nilai tambah ikan dengan mengolahnya sebagai abon, sedangkan rumput laut diproses sebagai roti rumput laut. Siswa SMK Pertanian dimotivasi untuk mengolah hasil sayur dan buah untuk diawetkan sebagai saus cabe, roti keladi dan sebagainya.

Dalam kaitannya dengan sumber daya, kita harus lebih mengutamakan penghematan, pemanfaatan kembali dan meminimalisasi terjadinya pembuangan sumber daya yang belum berhasil dimanfaatkan. Jadi seharusnya pemanfaatan daur sumber daya diarahkan pada penghematan, pemanfaatan kembali, reparasi, pengisian kembali dan seterusnya.

Pembangunan yang berkelanjutan berlangsung atas dasar pembangunan yang layak total, terdiri atas kelayakan teknologi yang tepat guna secara mandiri, kelayakan ekonomi yang baik pelaku aktif maupun peserta pasif pembangunan mendapatkan keuntungan ekonomi. Pembangunan harus terakhir dalam kelayakan bagi keseluruhan ekosistem kehidupan termasuk kelayakan makna pembangunan bagi seluruh anggota masyarakat.

Pembangunan seharusnya berlangsung secara mandiri dengan keterlibatan, dukungan dan dorongan segenap sumber daya : manusia – sumber daya alam hayati maupun non hayati, faktor waktu, tenaga – termasuk biaya lain yang diperlukan.

Kelembagaan pembangunan di Indonesia adalah tanggung jawab Kepala Negara dengan dibantu Menteri Koordinator Pembangunan yang terdiri atas Deputi Perencanaan, Deputi Pengawasan dan Deputi Akuntabilitas untuk menilai atau mengupayakan makna positif pembangunan secara keseluruhan.

Pendidikan diarahkan secara terpencar kesemua jenjang, mulai dari dasar, menengah sampai ke pendidikan tinggi. Sebagai penghargaan diberikan kriteria keberhasilan pendidikan yang mengacu pada penghematan semua sumber daya termasuk peningkatan tabungan dari semua peserta pendidikan, lembaga pendidikan yang bersih, peserta yang sehat, yang tertib dalam program pendidikan tenaga kerja yang cerdas, kompeten, mampu berkarya secara profesional. Pembangunan diperlukan bagi kemajuan negara dan masyarakat disegala bidang, mulai dari bidang pertanian dan pengelolaan hasil laut, industri, perdagangan, perbankan, pekerjaan umum, administrasi kenegaraan, transportasi, energi, gas, listrik, pertambangan dan sebaginya. Jadi pendidikan lingkungan harus dilaksanakan secara merata pada semua jenjang, tahapan dan jenis maupun disiplin pendidikan.

Akhirnya perlu penerapan pembangunan yang mandiri tetapi kooperatif dan integratif secara holistik antara berbagai sektor pembangunan. Hal ini perlu dukungan yang mendasar tentang kearifan sikap dan prilaku dengan wawasan lingkungan hidup segenap peserta pendidikan, baik para guru maupun para siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar